Selasa, 23 Oktober 2012

Penjual Racun Tikus

Penjual racun tikus saat melintas di jembatan Ampera



Seperti inilah aksi dari penjual racun tikus saat sedang mengelilingi kota ini, mungkin seantero kota ini tahu dengan penjual racun tikus ini, dengan mega phone teriakan suaranya lantang, dan sepeda yang di modifikasi beroda 4 ini, sebelumnya pedagang racun tikus ini menjual permen asam jawa yang berjualan di seputaran pasar 16 dan di pasar loak cinde di hari minggu, memang fenomenal pedagang yang satu ini.

 ---------------------------------

Racun tikus, racun tikus.” Kalimat itu terdengar lantang melalui alat pengeras suara sangat dikenal warga di Kota Palembang. Suara itu milik Raden Muhammad Dencik (39), yang sering dipanggil Pak Den. Pekerjaan Pak Den adalah berdagang alat pembasmi tikus, seperti racun, jebakan, dan lem tikus. Setiap hari Pak Den melewati jalan-jalan utama di kota itu dan masuk keluar kampung untuk menjajakan dagangannya.

Barang dagangan itu diletakkan dalam sepeda yang dimodifikasi sehingga memiliki empat roda. Satu roda di depan dan tiga roda di belakang, serta memiliki atap. Sepeda itu dilengkapi alat pengeras suara dan aki sebagai sumber tenaga listrik. Supaya lebih meriah, sepeda dipasangi lampu sirene warna merah dan kuning.
Di bagian belakang sepeda ada ban dan pelek cadangan. Kata Pak Den, itu untuk antisipasi kalau ban pecah atau pelek bengkok. Penampilan Pak Den juga unik. Ia selalu memakai helm warna putih dengan tulisan RCN TKS (singkatan dari racun tikus), sepatu bot karet hitam, dan sarung tangan hitam.

Biasanya orang akan tersenyum melihat cara Pak Den menjajakan dagangannya yang tidak lazim. Namun, dagangan itu laris manis karena tidak lazim dan tidak memiliki saingan. Saat ditemui Kompas di rumahnya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Lorong Wiraguna, Palembang, Sabtu (16/10) siang, Pak Den sedang bersiap mengayuh sepedanya keliling Palembang.

”Setiap hari Senin sampai Sabtu saya jualan keliling Palembang. Hari Senin dan Selasa ke daerah Perumnas Kenten, Rabu ke Kertapati, Kamis ke Musi II, Jumat ke Plaju, Sabtu kembali ke Perumnas Kenten,” kata suami Marfiah (32) itu. Setiap hari dia bekerja mulai pukul 13.00 hingga pukul 20.00, bahkan kadang sampai pukul 21.00. Berarti setiap hari ia sudah menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda. Itu sebabnya banyak warga Palembang akrab dengan suaranya.

Dia mengaku mulai berjualan racun tikus sejak tahun 2006 di Pasar 16 Ilir. Saat itu ia berjalan kaki sambil menenteng pengeras suara. Tahun 2007 Pak Den bisa membeli sepeda dari hasil berjualan racun tikus. ”Kenapa saya memilih berjualan racun tikus? Karena di mana-mana pasti banyak tikus. Saya pernah berjualan permen di kereta api jurusan Lampung dan Lubuk Linggau, tetapi tidak sukses,” kata ayah dari RA Amina Zuria (16), RM Mustofa (10), dan RM Kasirun Nawal (3).

Lelaki yang hanya tamatan sekolah dasar ini mengaku hasil penjualannya mencapai Rp 50.000-Rp 200.000 per hari, bahkan kadang mencapai Rp 500.000. Bagi dia, berjualan racun tikus dengan mengayuh sepeda juga bermanfaat bagi kesehatan. Hingga kini dirinya tak pernah sakit. Sejumlah perusahaan farmasi dan otomotif menawarinya jadi tenaga penjual, tetapi dia tetap pilih racun tikus. (WAD)

Racun Tikus!!! Yang Tak Asing Di Telinga Warga Palembang


RACUUUNNNN TIKUSSSSS!!! … RACUNNNN TIKUSSSSS!!!

Tentunya warga Palembang sudah tidak asing dengan bapak yang satu ini, yah siapa yang tak mengenal si penjual racun tikus pembasmi hama rumah tangga yang nyentrik dan berjualan dengan cara tidak biasa ini. Tak sengaja kami berjumpa dengan bapak yang terkenal ini kemarin sore (Rabu, 20/07/2011), tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan sedikit wawancara.
Pak Den Penjual Racun Tikus Keliling
Adalah Pak DenCik seorang penjual racun tikus keliling, yang bisa dibilang penjual racun tikus keliling pertama dan satu-satunya di Palembang. Selain menjual Racun tikus, Pak Den juga menjual alat penjerat tikus seperti jebakan jepit, jebakan kurung, dan lem tikus. Pak Den memulai pekerjaan uniknya ini sejak 4 tahun yang lalu.
Pak DenCik setiap hari nya mengelilingi Palembang mulai dari pukul 13.00 wib sampai dengan pukul 20.00. wib, saat ditanya alasan mengapa Pak DenCik memilih profesi ini? karena di sekitar kita masih banyak terdapat tikus-tikus yang masih sangat menggangu seperti, di rumah tinggal, restoran, kantor dll. Lalu mengapa dengan cara yang unik? Pak DenCik menjelaskan, ini inisiatif saya sendiri, saya ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda dari yang lain, suatu peluang tanpa saingan walaupun hanya berjualan racun tikus yang harganya tidak seberapa ini .
Setiap harinya Pak DenCik kurang lebih berhasil menjual racun tikus dan perangkat lainnya dengan pendapatan rata-rata Rp.200-Rp.300 ribu. Dengan pengeras suara dan dandanan yang unik memakai helm putih yang bertuliskan “RCN” singkatan dari “Racun”, mengenakan sepatu  Boot dan sarung tangan, Pak DenCik selalu semangat menjajakan dagangannya, tanpa rasa malu yang akhirnya membuat seorang bapak dari 3 orang anak ini menjadi terkenal di kota Palembang.
Sungguh menginspirasi bukan! Pak Den tidak gengsi memilih pekerjaan dia jelih meliat peluang tanpa saingan itu, setidaknya Pak DenCik adalah salah satu contoh nyata di kehidupan kita sehari-hari bahwa berjualan racun tikus pun bisa jadi terkenal!

Racun Tikus Dikira Teh


 Seharusnya benda berbahaya seperti racun tikus jangan diletakkan sembarangan. Apalagi olahan racun tersebut menyerupai teh.

Itulah yang dialami Masesi (23). Janda muda beranak satu ini secara tidak sengaja meneguk cairan racun tikus Kamis (12/1/2013) pukul 14.30. Itu terjadi di rumahnya yang terletak di Desa Merabab Kabupaten Muba.

Bibinya, Inah yang ditemui Jumat (13/1/2012) bercerita, cairan racun tikus diletakkan ayah Masesi di sebuah botol air mineral. Setelah dipakai untuk membunuh hama tikus, cairan yang berada di dalam botol mineral tersebut ditaruh di dapur rumah.

Masesi yang merasa kehausan langsung meneguk cairan tersebut. Kontan,  setelah beberapa tegukan, ia muntah dan selanjutnya tidak sadarkan diri.

Masesi yang tidak sadarkan diri langsung dilarikan ke RSUD Pangkalanbalai. Namun, pihak keluarga memilih untuk merujuk Masesi ke RSMH Palembang.

Racun tikus

Di Palembang bapak satu ini sangat terkenal dengan dagangannya, sejak lama secara terus menerus konsisten menjual racun tikus dengan berbekal sepeda roda tiga, speaker kecil, sepatu boat dan tidak ketinggalan dagangannya Racun tikus termasuk juga kadang-kadang perangkap tikus. Anehnya selalu saya menjumpainya di jalan-jalan besar dan sekitar pertokoan, belum pernah saya lihat ia masuk perkampungan padahal menurut saya justru kalau masuk kampung jualannya akan laris. Tapi sepertinya ia selalu happy dengan berjualan seperti ini dan selalu berteriak dengan mikrofonnya "Raccunnn Tikussss"